Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2017

DAY 10 : Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Bunda Ngantuk, Saka Rewel Berhubung kamis siang hingga maghrib kami ada acara di Jogja, saya belum sempat membuat laporan tulisan “Day 9 : Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif”. Oleh karenanya, meski capek masih hinggap di badan, Jumat (9/6/2017) dini hari saya bangun dan mulai menulis hingga sahur. Setelah benar-benar tidak kuat menahan kantuk, saya pun tidur. Namun, baru terlelap sebentar, Saka sudah bangun. “Dek, Bunda tidur sebentar, ya. Ngantuk banget.” Saya katakan pada Saka kondisi saya yang sebenarnya. “Ma, bangun!” Saka merengek. Tidak memperbolehkan saya tidur. “Bunda ngantuk banget, Dek. Sebentar saja, ya.” Saya merebahkan kepala di tempat tidur. “Ma, Saka jajan.” Kebetulan di rumah tidak ada makanan ringan. Adanya hanya susu kotak milik ayah. “Mimik susu ayah saja ya?” “Yoh. Mimik susu ayah.”

Bunda kemudian mengambilkan susu kotak dan menyerahkannya pada Saka. Alhamdulillah, Saka bisa anteng. Bunda kembali merebahkan badan. Hingga kemudian terdengar tangis Saka. “Ma, …

DAY 9 : Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Saka Minta Agar-agar Saat berada di dapur, Saka melihat ada bungkus agar-agar swallow di meja. Saka sempat bertanya apakah isi bungkusan warna kuning tersebut. Saya katakan bahwa bungkusan itu adalah agar-agar mentah. Tidak enak dimakan. Kalau mau maem ya harus dimasak dulu agar-agar itu. Saka saat itu juga minta dibuatkan agar-agar. Berhubung saya sedang menggoreng telur untuk sarapan anak-anak, saya bilang sama Saka kalau masak agar-agarnya nanti setelah sarapan pagi. Setelah sarapan pagi, saya pikir Saka sudah lupa dengan keinginannya minta agar-agar. Ternyata tidak, Saka tetap minta dibuatkan agara-agar. “Ma, agar-agar.” Saka merengek minta dibuatkan agar-agar. “Ya. Nanti dibuatkan agar-agar. Sekarang Saka maem telur dulu, ya.” Saya mendekatkan piring berisi nasi dan telur dadar ke arah Saka. “Saka udah.” “Lah, kok sedikit maemnya? Biasanya adek maemnya buanyak,” kataku heran. “Saka maem buanyak,” timpalnya dengan intonasi suara meninggi. Maksud perkataannya adalah Saka sudah…

DAY 8 : Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Saka Belajar Njempol Reksa biasa memuji adiknya dengan kata “jos” atau “sip” sambil mengangkat kedua jempolnya (njempol) saat Saka berhasil melakukan sesuatu. Saka yang melihat tingkah kakaknya pun berusaha njempol. Namun yang terangkat dari tangannya adalah telunjuk. Saya tahu Saka sudah berusaha, hanya saja tangannya belum bisa menekuk jari telunjuk, tengah, jari manis dan kelingking secara bersamaan. “Salah kui, Dek,” Reksa mengoreksi cara Saka njempol. “Ha...aaa,” Saka kesal karena disebut salah. “Sing bener ki ngene iki.” Reksa mencontohkan cara njempol yang benar. Sekali lagi Saka menirukan, tetapi yang keluar malah telunjuknya. Saka kemudian menangis. 
Saya mendekatinya dan mengajarkan bagaimana njempol. Saya meminta Saka merentangkan semua jarinya, baru pelan-pelan menekuk jari telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking secara bersamaan. Saka mengikuti arahan saya. Rupanya dia kesusahan menekuk keempat jarinya bersamaan. Beberapa kali saya membantunya. Dengan bantuan saya,…

DAY 7 : Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Merawat Ulat Pagi hari saat saya menyetrika pakaian, Reksa bermain bersama adeknya di luar rumah. Tiba-tiba Saka melihat sesuatu dan berkata. “Waa.. Apik. Mbak, ki apik,” Saka menunjuk benda hitam di lantai. Reksa datang mendatangi adiknya. “Opo, Dek?” tanyanya sambil menunduk agar bisa melihat lebih jelas. “Weh, kui luwing. Ampun, Dek. Ditaruh wae!” “Luwing?!” Saka bingung. Mendengar Reksa bilang “luwing”, saya bergerak mendekati keduanya. “Oh, itu uler gagak (ulat gagak). Nggak papa, nggak menggigit.” “Oh, uler gagak. Kok koyo luwing?” Reksa sudah tahu luwing. Memang bentuknya hampir sama dengan uler gagak. Bedanya, uler gagak lebih kecil dan pipih. Kalau luwih, lebih besar dan gemuk.

“Memang mirip. Kalau luwing ki berbahaya. Jangan dipegang. Kalau uler gagak, nggak papa dipegang. Tapi lebih baik dilepas saja. Kasihan.” Saya berharap anak-anak sayang binatang. Tidak mudah menyakiti karena binatang juga makhluk Tuhan. Sama dengan kita. “Iya, kasihan. Dilepas wae, Dek. Ayo, dibuatin rum…

DAY 6 : TANTANGAN 10 HARI KOMUNIKASI PRODUKTIF

Memberi Pilihan Aktivitas Jadwal aktivitas anak-anak setiap senin pagi adalah sekolah di PAUD. Sebelum berangkat biasanya saya tanya kepada mereka apakah mau sekolah ataukah tidak. Sejak awal saya memang tidak memaksa anak untuk sekolah karena saya percaya bahwa belajar itu bisa dimana saja. Berhubung Reksa itu anaknya senang berteman, dia lebih memilih berangkat sekolah dibanding beraktivitas di rumah. Di sekolah, Reksa sudah mandiri. Dia beraktivitas sesuai arahan guru tanpa perlu saya dampingi. Seperti saat mewarnai, melipat, menggunting, membuat prakarya dan berolahraga. Saya hanya sesekali mengecek saja untuk melihat perkembangan belajarnya. Reksa juga sudah berani saya tinggal sendiri. Jadi, saat kondisi tidak memungkinkan (semisal saat saya sakit), Reksa tidak perlu ditemani.

Adapun untuk Saka, saya masih harus mengawasi aktivitasnya. Saka juga masih saya bebaskan untuk memilih aktivitasnya karena di usianya sekarang (2 tahun 9 bulan) dia belum bisa duduk diam dalam waktu yang a…

DAY 5 : Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Saat Anak Bertengkar Berbeda dengan hari sebelumnya yang “manis” dan menyenangkan, hari Minggu (4/6/2017) Reksa susah diajak bekerja sama. Saat bermain bersama Saka, Reksa sering memancing pertengkaran. Hanya karena berbeda pendapat atau ucapan, Reksa tidak mau memaklumi adiknya. Seperti saat Saka minta dibuatkan sirup, Saka menyebut kata sirup dengan “iyut” karena memang ucapannya masih belum jelas. “Ora iyut, yo. Sirup,” ujar Reksa mengoreksi ucapan Saka. “Iyut.” Saka tak mau kalah. “Sirup. Adik ki salah. Ora, iyut,” suara Reksa meninggi. “Iyut.” “Sirup. Adik ki ngeyel. Sing bener sirup to, Bunda?” Reksa bertanya kepadaku mencari dukungan. “Sirup. Adik ki yo ngomonge sirup. Ning karang lisannya belum sempurna, pengucapane dadi iyut.” Saya memberi pemahaman kepada Reksa. “Nek lisanku wis sempurna?” Reksa balik bertanya. “Iya. Mbak kan sudah besar. Mbiyen Mbak yo ngomonge koyo adek. Arep ngomong ayam dadine ayau. Ngomong bayam dadine bayau. Yo ngono kui. Ning suwe-suwe dadi pener. Ade…

DAY 4 : Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Kartu Ucapan dari Reksa Pagi hari selepas shubuh, saya beres-beres rumah. Dimulai dari melipat baju, menatanya hingga memasukkan ke almari. Melihat saya sedang melipat baju, Reksa ikut nimbrung. Dia melihat kaos baru ayah yang masih terbungkus plastik di tumpukan baju. “Bun, kaos-e ayah kok diplastiki maneh?” tanya Reksa sambil mulai membuka plastik kaos tersebut. Saya hampir saja mau melarang Reksa membuka plastik tersebut karena sebelumnya dia membuka dan tidak mengembalikannya seperti semula. Namun, saya mencoba menahan diri untuk tidak melarang. Akan lebih baik jika saya bertanya terlebih dahulu mengapa dia ingin membukanya lagi. “Iya. Memange mau dipakai untuk apa, Mbak?” “Kertase arep tak nggo aktivitas, Bun.” Reksa mengeluarkan kertas pembatas yang ada di dalam kaos. “Oh, yo, wis.” Saya membolehkan karena alasannya jelas. Saya kemudian melanjutkan lipat melipat baju. Di tengah-tengah pekerjaan tersebut, Reksa tiba-tiba bertanya. “Bun, huruf “n” ki piye le nulis?” tanyanya sa…

DAY 3 : Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Pindah Rumah Pukul 04.00 WIB kemarin anak-anak sudah bangun. Saya pikir mereka bangun sebentar untuk minum kemudian lanjut tidur lagi. Ternyata mereka tetep melek sampai pagi. Jadilah, saya ajak mereka memindah barang-barang ke rumah baru. Letaknya hanya 10 meter dari rumah yang kami tinggali sekarang. “Mbak, Bunda mau mindah-mindah barang ke rumah baru. Mbak karo adek bantu Bunda, ya?” pintaku pada Reksa dan Saka. “Ya. Aku ikut bantu apa, Bunda?” tanya Reksa. “Bantu mindah baju dan mainan Mbak Reksa,” jawabku sambil memasukkan baju ke tas besar. Reksa kemudian mengambil tas yang agak sedang. Dia memasukkan mainan ke dalam tas hingga hampir penuh. Saka hanya ikut wira-wiri saja. Hehe.. Setelah mengisi tas penuh-penuh, kami berjalan menuju rumah baru. Meletakkan barang-barang di karpet, kemudian balik lagi untuk mengambil barang. Saat memasukkan baju ke dalam tas, Saka punya inisiatif membantu Bunda. “Ma, Ata bantu,” pintanya kepadaku. “Oya, adek yang ambil baju dari lemari. Bunda yang…

DAY 2 : Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Tantangan hari kedua komunikasi produktif masih konsisten dalam upaya melatih kemandirian Saka. Seperti pagi sebelumnya, Saka sudah mulai bisa makan sendiri. Tentu saja saya masih membantu membuat gunung-gunung nasi kecil dan teriak “DUER” saat Saka memasukkan nasinya ke mulut. Hehe..Saya memang sengaja tidak terburu-buru memaksa Saka langsung mandiri agar dalam proses pelatihannya menyenangkan. Pada hari kedua ini, Saka juga sudah terbiasa melepas dan memakai celana sendiri saat pipis di kamar mandi. Kuncinya terletak pada saya sendiri untuk tetap stay cool saat anak kesulitan melepas dan memakainya kembali. Saya cukup sebagai pemandu sorak saja. Biarkan anak menghadapi kesulitannya sendiri.
Melatih Saka Tanggung Jawab Saat saya menjemur pakaian, Saka bermain perang-perangan dengan Reksa. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba Saka memuntahkan air minum yang ada di mulutnya. Maksudnya ingin mengenai kakaknya tapi tidak kena karena kakaknya cepat menghindar. Kejadian ini terjadi lebih dari …