Langsung ke konten utama

DAY 7 : Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif


Merawat Ulat
Pagi hari saat saya menyetrika pakaian, Reksa bermain bersama adeknya di luar rumah. Tiba-tiba Saka melihat sesuatu dan berkata.
Waa.. Apik. Mbak, ki apik,” Saka menunjuk benda hitam di lantai.
Reksa datang mendatangi adiknya. “Opo, Dek?” tanyanya sambil menunduk agar bisa melihat lebih jelas. “Weh, kui luwing. Ampun, Dek. Ditaruh wae!”
Luwing?!” Saka bingung.
Mendengar Reksa bilang “luwing”, saya bergerak mendekati keduanya. “Oh, itu uler gagak (ulat gagak). Nggak papa, nggak menggigit.”
Oh, uler gagak. Kok koyo luwing?” Reksa sudah tahu luwing. Memang bentuknya hampir sama dengan uler gagak. Bedanya, uler gagak lebih kecil dan pipih. Kalau luwih, lebih besar dan gemuk.

Reksa dan Saka membuatkan rumah ulat (6/6/2017)

Memang mirip. Kalau luwing ki berbahaya. Jangan dipegang. Kalau uler gagak, nggak papa dipegang. Tapi lebih baik dilepas saja. Kasihan.” Saya berharap anak-anak sayang binatang. Tidak mudah menyakiti karena binatang juga makhluk Tuhan. Sama dengan kita.
Iya, kasihan. Dilepas wae, Dek. Ayo, dibuatin rumah,” ajak Reksa pada adeknya. Keduanya keluar rumah bersama. Sibuk membuatkan rumah ulat.
Bunda, ki lho rumahe uler,” tunjuk Reksa pada lubang kecil di tanah depan rumah.
Sempit ora kui, Mbak?” Saya antusias dengan idenya.
Ora, Bun. Itu lubangnya luas,” Reksa membuka daun yang menutupi lubang tersebut. “Atasnya tak tutupi daun biar nggak kepanasan.”
Oya. Bagus idemu, Mbak.” Saya memuji ide Reksa dengan tulus sambil mengangkat dua jempol. “Thumbs up!”
Yee..,” Reksa bertepuk tangan senang. Saka yang ikut wira-wiri bantu kakaknya juga ikut gembira.
Alhamdulillah, saya senang dengan poin “Fokus ke depan, bukan masa lalu” karena anak-anak jadi semakin kreatif. Ditambah dengan “memuji secara detail dan tulus” turut memacu kreativitas mereka berdu saat ini.

Rumah ulatnya ditutupi daun agar tidak kepanasan (6/6/2017)

Reksa, Asisten Bunda
Sebagai ibu yang full bekerja di rumah, saya terkadang lelah. Bukan hanya lelah fisik, namun juga lelah mental. Terlebih saat menghadapi anak-anak yang susah diajak kerjasama. Dalam kondisi seperti itu, saya bersyukur ada Reksa yang selalu siaga menjadi asisten bunda. Seperti saat Saka minta minum, minta lihat youtube atau minta dianter ke kamar mandi.
Sehari kemarin Reksa sangat membantu Bunda. Terkadang saya sengaja minta tolong. Tapi kadang Reksa sendiri yang berinisiatif membantu Saka tanpa saya minta.
Ayo, Dek. Karo Mbak wae,” ajaknya pada adiknya saat Saka merengek minta dianter Bunda ke kamar mandi.
Yoh,” Saka mengikuti ajakan kakaknya.
Sesampainya di kamar mandi, Saka pipis sendiri. Reksa hanya mengawasinya dari luar. Setelah Saka selesai pipis, kulihat Reksa melongok ke kamar mandi.
Diguyur pipise, Dek!”
Yoh.”
Terus cawik.”
Yoh.”
Sip, Dek. Pinter!” puji Reksa pada adiknya.
Lantas kulihat keduanya berjalan keluar dari kamar mandi. “Jos, Mbak Reksa. Makasih ya Mbak, sudah membantu, Bunda.” Saya memuji Reksa sambil memeluknya. Reksa senang diberi tugas menjadi asisten. Bunda sanang kerjaannya terkurangi.
Dek, sesok maneh nek bunda repot, njaluk dikancani mbak wae, ya.” ujar Reksa pada adiknya.
Yoh,” jawab Saka mantap.
Saya bersyukur, kehadiran Reksa sangat membantu pekerjaan bunda. Sebagai anak yang gemar merawat dan memperhatikan orang lain, kepercayaan dan pujian tulus dari kami, membuatnya semakin merasa berarti.

Ayah Marah Lagi
Kalau tidak dicicil sedikit demi sedikit, saya tidak akan selesai menulis laporan tantangan 10 hari komunikasi produktif. Oleh karenanya, saat anak-anak makan, saya ingin melanjutkan menulis. Baru saja lima menit membuka laptop, ayah bangun dan keluar kamar.
Mbok diresiki rumahe ki, Bunda,” suruh ayah dengan nada kesal.
Oalah, Yah. Pengene ki yo rumah bersih terus. Tapi karena ada anak-anak yang saban hari mainan ya mestine rumah ki kotor barang.” Bukannya lekas beberes rumah, saya malah ngedumel (ngomel). “Saya baru saja buka laptop. Yo wislah.”
Awalnya saya merasa jengkel kalau disuruh seperti itu. Lama kelamaan saya berpikir, mungkin saya yang belum bisa atur waktu sehingga ayah sampai marah. Oke, mulai detik ini saya bertekad untuk memanajemen kembali pekerjaan saya agar kejadian serupa tak terulang lagi.

#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGENAL ANAK INDIGO MELALUI NOVEL

  Judul Buku : Misteri Anak Jagung Penulis : Wylvera Windayana Penerbit : PT. Penerbitan Pelangi Indonesia Cetakan : I, Januari 2013 Tebal Buku : 200 halaman Harga : Rp. 48.000,- Anda penasaran mengetahui siapa anak indigo itu, namun malas membaca buku The Indigo Children karya Lee Carroll dan Jan Tober? Saran saya, bacalah Misteri Anak Jagung. Novel remaja pertama yang ditulis oleh Wylvera Windayana ini mengisahkan tentang petualangan anak indigo dalam bingkai cerita misteri. Gantari – tokoh utama novel ini – sering dihantui oleh sosok Anak Jagung. Sosok itu seringkali muncul dalam mimpi-mimpinya. Sosok yang membuat Gantari penasaran sekaligus ketakutan. Selain muncul melalui mimpi, suara tangisan sosok misterius dari arah ladang jagung juga kerap mengusik telinganya. Apakah Legenda Anak Jagung yang diceritakan nenek Gantari itu benar-benar ada? Bersama Delia, Gantari berusaha mengungkap semuanya. Usaha mereka semakin terbuka ...

Membuat Hasta Karya Bentuk Hati

Kehadiran teman, sering memicu kreativitas anak-anak. Seperti sore beberapa hari yang lalu. Mbak Septi, tetangga kami main ke rumah. Sudah pasti anak-anak sangat senang. Berbagai permainan mereka mainkan. Mulai dari permainan fisik seperti naik sepeda hingga permainan imajinatif seperti bermain peran. Setelah lelah bermain, sore itu anak-anak mengambil kertas warna. "Bikin love, Yuk!" ajak Mbak Septi. Maksudnya bikin bentuk hati dari kertas warna. "Ayuk," Reksa mengambil kertas dan spidol. Keduanya lantas menggambar bentuk hati di atas kertas warna. Setelah selesai menggambar, keduanya pun mengguntingnya. Tertarik dengan aktivitas keduanya, saya pun ikut membuat bentuk hati. Saya menggunakan teknik yang berbeda dengan anak-anak. Setelah selesai menggunting, saya perlihatkan karya saya pada anak-anak. "Nih, buatan Bunda. Kanan kirinya sama kan?" Reksa dan temannya mengamati hasil karya saya. "Iyae, Bun." "Biar sama, cara bikinnya d...

MELUNCUR DI ATAS JAHE

“Teeet! Teeet! Teeet!” Suara bel berbunyi tiga kali. Tanda ujian berakhir. “ Alhamdulillah...”, ucapku pelan. Lega rasanya ujian semester ini telah berakhir. Bergegas aku mengumpulkan lembar jawaban ke depan. Ternyata aku yang paling akhir. Setelah mengambil tas, aku duduk di samping kursi Maikah. “Mai, aku dengar kabar dari kelas 6, liburan ini kita akan diajak outbond ke Gua Pindul lho..” bisikku pada Maikah. Sudah menjadi kesepakatanku dengan Maikah, pada masa-masa ujian seperti sekarang ini, pantang bagi kami berdua membahas soal ujian sekolah. Maikah menoleh. “Oya? Asyik dong! Jadi pengen beli gatot sama tiwul.” “Ah, kau! Makanan aja yang diingat,” kucubit perut Maikah yang semakin buncit. Maikah memasukkan peralatan tulis ke dalam tas. “Memang sudah pasti ke Gua Pindul?” tanya Maikah ragu-ragu. Aku mengedikkan bahu. “Yah, semoga aja” Topik tentang liburan semester memang selalu hangat dalam perbincangan kami. Sudah seminggu kami sekelas membincangkan topi...