Langsung ke konten utama

DAY 8 : Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif


Saka Belajar Njempol
Reksa biasa memuji adiknya dengan kata “jos” atau “sip” sambil mengangkat kedua jempolnya (njempol) saat Saka berhasil melakukan sesuatu. Saka yang melihat tingkah kakaknya pun berusaha njempol. Namun yang terangkat dari tangannya adalah telunjuk. Saya tahu Saka sudah berusaha, hanya saja tangannya belum bisa menekuk jari telunjuk, tengah, jari manis dan kelingking secara bersamaan.
Salah kui, Dek,” Reksa mengoreksi cara Saka njempol.
Ha...aaa,” Saka kesal karena disebut salah.
Sing bener ki ngene iki.” Reksa mencontohkan cara njempol yang benar.
Sekali lagi Saka menirukan, tetapi yang keluar malah telunjuknya. Saka kemudian menangis. 

Saka sudah bisa njempol (7/6/2017)
 
Saya mendekatinya dan mengajarkan bagaimana njempol. Saya meminta Saka merentangkan semua jarinya, baru pelan-pelan menekuk jari telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking secara bersamaan. Saka mengikuti arahan saya. Rupanya dia kesusahan menekuk keempat jarinya bersamaan. Beberapa kali saya membantunya. Dengan bantuan saya, Saka akhirnya bisa njempol.
Sekarang Saka njempol dewe, yo.” Saya meminta Saka menekuk sendiri sambil saya mencontohkan caranya.
Saka mencobanya sendiri. Berulang kali salah.
Ngene iki, lho, Dek.” saya mencontoh berulang-ulang.
Saka mencoba lagi menggerakkan jari-jarinya. Mencoba dan terus mencoba lagi. Voila.. Akhirnya dia bisa njempol sendiri. “Ngene iki, Ma?”
Iya. Bener. Bagus, Dek.” Saya memuji usahanya.
Ha...” Saka senang bisa njempol.
Sana, Ayah dikasih tahu kalau Saka sudah bisa njempol.” Saya meminta Saka menemui ayahnya agar kebahagiaannya semakin bertambah. Apresiasi orang tua terhadap usaha anak dalam melakukan sesuatu sangat berarti bagi diri anak. Dia akan merasa berharga dan kelak dia tidak akan takut mencoba melakukan hal lain yang lebih menantang. Good job, Saka! We love you full.

Reksa Belajar Sopan Santun
Siang hari saat saya baru saja selesai menjemur pakaian, keluarga kami kedatangan tamu. Kakak kandung saya yang pertama mampir dalam perjalanan dari Wates. Beliau bersama temannya bermaksud ikut sholat di rumah kami. Tentu saja tujuan utamanya agar bisa ketemu dengan saya dan anak-anak. Kebetulan kami memang jarang sekali bertemu karena kesibukan kami masing-masing.
Berhubung bulan ramadhan, saya hanya menyediakan bantal di ruang tamu agar bisa digunakan rebahan sejenak. Saya meminta mereka untuk istirahat sebelum melanjutkan perjalanan lagi ke Jogja. Saat mereka sholat di musholla, Reksa datang menghampiri saya. Dia langsung tidur di atas bantal yang saya sediakan untuk tamu.
Mbak, jangan tidur di atas bantal!” Saya melarang Reksa. Eh, saya baru sadar kalau ucapan saya tadi menggunakan kalimat negatif. “Mbak, bantalnya untuk tamu. Mbak tidur di karpet saja.” Saya buru-buru mengoreksi kalimat tersebut.
Moh.” Reksa tetap tidak mau pindah.
Welah, tidur itu nggak boleh di atas bantal. Nanti pantatnya wudunen (bisul).”
Karena takut tamunya datang, saya mengucapkan kalimat sama persis yang biasa diucapkan orang tua zaman dahulu. Padahal saya sadar kalau ucapan tersebut tidak benar. Hanya karena ingin agar Reksa cepat pindah dari bantal, saya mengucapkan kalimat tersebut. Apakah kemudian Reksa mau pindah tempat? Ternyata tidak. Reksa tetap saja santai tidur di atas bantal.
Saya sudah kehabisan akal. Dalam kondisi mendesak, ilmu komunikasi produktif bubar jalan. Saya lantas menarik kaki Reksa pelan-pelan. “Pindah ke sini,” kataku tegas. Reksa pun kemudian pindah ke karpet. Bantal saya jauhkan dari jangkauannya. Sepuluh detik kemudian tamu sudah selesai sholat dan bergabung bersama kami di ruang tamu.
Setelah tamu pamitan, saya mengevaluasi komunikasi saya dengan Reksa. Sebenarnya Reksa akan bersikap sopan jika saya sudah memberinya pelajaran mengenai sopan santun saat menerima tamu. Jujur, selama ini banyak yang belum saya ajarkan pada anak-anak. Saya hanya menjalaninya saja tanpa terlebih dahulu memberinya bekal. Saat ada kejadian yang kurang baik, saya baru memberinya nasehat. Mengatakan sebaiknya anak-anak begini dan begitu bla bla bla. Baiklah, jadi PR bunda adalah menyusun kurikulum pendidikan anak-anak. Termasuk di dalamnya ilmu adab.

Menerapkan Kaidah 2C
Ba'da ashar keluar yo, Bun,” ajak Ayah tiba-tiba.
Ha? Memang mau ngapain, Yah?” Tidak ada rencana keluar kok ayah tiba-tiba mengajak keluar.
La piye? Nggak ada progres gini. Banyak peralatan dapur yang belum dibeli,” keluh Ayah.
Oh, jadi Ayah merasa saya kurang sigap dalam membeli peralatan rumah tangga. Kami memang sempat ke swalayan Wates. Sudah beli beberapa perlatan kebersihan. Sementara untuk keperluan rumah tangga seperti peralatan masak dan makan memang belum beli karena peralatan yang saya cari tidak ada barangnya. Seingatku saya sudah menyampaikan alasan tersebut pada ayah. Rupanya pesan saya tidak diterima dengan baik. Berhubung saya yang harus bertanggung jawab atas hasil dari komunikasi saya, maka saya pun menyampaikan ulang pada Ayah.
Yah, masalahe barang yang saya cari nggak ada di swalayan Wates. Adanya barang dari bahan aluminium. Sedang yang saya cari peralatan masak dari bahan stainless stell. Kalau peralatan kebersihan mah sudah beli.” Saya memberi alasan dengan jelas sesuai kaidah 2C (clear and clarification).
Oh, ngono?” Ayah baru memahami alasan mengapa progres pembelian peralatan rumah tangga lambat. “Yo wis, nanti sore ke Wates nyari dispenser aja. Keburu dibutuhkan.”
Oke,” Saya lega komunikasi kami membaik.

#level1
#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SINOPSIS FILM SPIRITED AWAY

Judul Asli : Sen to Chihiro no KamikakushiNegara : Jepang Tahun : 2001 Sutradara : Hayao Miyazaki Pengisi Suara : Rumi Hiiragi, Miyu Irino, Mari Natsuki Durasi : 125 menit
Hampir sebagian besar anak-anak takut hantu. Padahal saat ditanya, apakah mereka sudah pernah melihat hantu, bisa dipastikan mereka akan menggelengkan kepala. Ya, anak-anak hanyalah merekam apa yang orang lain katakan. Bahwa hantu itu ada dan menyeramkan. Lantas rekaman tersebut memenuhi ingatan mereka sehingga membuat mereka takut. Bagaimana jika anak-anak kita ajak menonton film hantu? Tentu saja bukan untuk menakuti, namun untuk merubah pandangan anak-anak tentang hantu. Film Spirited Away adalah salah satu film animasi dari Jepang yang layak ditonton anak-anak. Meskipun bercerita tentang dunia hantu, bentuk hantu dan adegan dalam film ini sama sekali tidak menyeramkan. Justru film ini bisa mengurangi stereotype bahwa hantu itu menakutkan. Menurut Wikipedia, Spirited Away dirilis di Jepang pada tanggal 20 Juli 2001…

MENGENAL ANAK INDIGO MELALUI NOVEL

Judul Buku : Misteri Anak Jagung Penulis : Wylvera Windayana Penerbit : PT. Penerbitan Pelangi Indonesia Cetakan : I, Januari 2013 Tebal Buku : 200 halaman Harga : Rp. 48.000,-

Anda penasaran mengetahui siapa anak indigo itu, namun malas membaca buku The Indigo Children karya Lee Carroll dan Jan Tober? Saran saya, bacalah Misteri Anak Jagung. Novel remaja pertama yang ditulis oleh Wylvera Windayana ini mengisahkan tentang petualangan anak indigo dalam bingkai cerita misteri. Gantari – tokoh utama novel ini – sering dihantui oleh sosok Anak Jagung. Sosok itu seringkali muncul dalam mimpi-mimpinya. Sosok yang membuat Gantari penasaran sekaligus ketakutan. Selain muncul melalui mimpi, suara tangisan sosok misterius dari arah ladang jagung juga kerap mengusik telinganya. Apakah Legenda Anak Jagung yang diceritakan nenek Gantari itu benar-benar ada? Bersama Delia, Gantari berusaha mengungkap semuanya. Usaha mereka semakin terbuka saat keduanya mengenal Aldwin, seorang anak indigo yang…

RANGKUMAN MATERI WEBINAR HOMESCHOOLING SESI 2

Lima bulan terakhir ini saya tertarik mempelajari model pendidikan homeschooling. Hari-hari saya berkutat dengan browsing dan browsing tentang apa itu homeschooling. Mengapa bisa begitu? Semua bermula dari kegelisahan saya saat masih tinggal dengan kakak perempuan saya yang mempunyai anak usia SD. Namanya Azkal (9 tahun). Setiap kali belajar bersama ibunya, setiap kali itu pula ia “ribut” dengan ibunya. Ibunya, kakak perempuan saya, merasa sejak duduk di kelas 3, Azkal susah sekali diajak belajar. Menurutnya, guru kelas Azkal kurang kreatif dalam mendidik. Seringkali hanya menyuruh anak mencatat materi pelajaran saja. Beberapa orang tua sudah menyampaikan keluhan tersebut ke pihak sekolah. Sayangnya, keluhan tersebut tidak diimbangi dengan perbaikan di pihak sang guru. Kondisi ini tidak berimbang dengan banyaknya materi pelajaran yang harus dipelajari siswa Sebenarnya materi pelajaran untuk SD kelas 3 belum begitu rumit. Hanya saja, sang guru menggunakan acuan Lembar Kegiatan Sisw…