Langsung ke konten utama

DAY 5 : Tantangan 10 Hari Family Project


Nama Project : Perayaan HUT RI
Gagasan : Reksa adalah anak yang sangat senang berinteraksi dengan orang lain. Dia tidak betah di rumah. Jika temannya sudah pulang sekolah, sudah pasti Reksa akan bermain ke rumah temannya. Saat temannya TPA, Reksa ikut TPA. Saat temannya les nari, Reksa juga ikut nari. Reksa TPA dan menari lebih karena dia ingin bermain bersama temannya.
Nah, minggu-minggu awal di Bulan Agustus, Reksa ikut menari bersama temannya. Saya menduga hanya sementara saja karena biasanya Reksa hanya ikut-ikutan saja. Ternyata pada suatu hari Reksa menyatakan keinginannya untuk tampil di acara Malam Tirakatan dalam rangka peringatan HUT RI. Saya agak ragu dengan kemampuannya karena baru beberapa kali latihan. Saya pun memutuskan menemui guru menarinya. Kata gurunya, Reksa sudah bisa mengikuti gerakan tari. Ada beberapa teman seusianya juga yang ikut. 
Reksa bersama temannya menari "Tari gembira" (16/8/2017)
 
Setelah mendapat kejelasan dari gururnya, saya kembali menanyai Reksa apakah dia benar-benar mau ikut? Kalau memang mau ikut, dia harus bertanggung jawab dengan konsekuensinya. Yakni rajin berlatih bersama temannya. Reksa tetap kekeh ingin ikut. Ya sudah, sebagai orang tua, saya menyetujui keinginannya.
Meski pelaksana utamanya adalah Reksa, orang tua tetap ikut terlibat. Ayah sebagai sie pendanaan. Tugasnya menyediakan kebutuhan terkait pementasan. Seperti sewa kostum dan tali kasih untuk guru tari. Bunda sebagai sie transportasi yang bertugas menjemput Reksa saat latihan dan ketika malam tirakatan. Sekaligus juga sie dokumentasi yang bertugas mendokumentasikan pentas Reksa. Sedangkan Saka sebagai penggembira yang tugasnya menemani Bunda saat antar jemput Reksa.
Penanggung Jawab : Reksa
Waktu Pelaksanaan : 16 Agustus 2017 (Malam Tirakatan Dusun Kalisoka)
Pelaksanaan : Meski pelaksanaan acara pas malam tirakatan tanggal 16 Agustus 2017, namun prosesnya sudah dimulai sejak latihan di minggu-minggu awal Bulan Agustus. Biasanya Reksa berangkat diantar oleh tetangga yang kebetulan putranya juga ikut les nari. Sementara pulangnya, saya kadang menjemputnya. Kadang juga bersama tetangga.
Pernah suatu kali, Reksa bersama temannya berangkat naik sepeda. Waktu itu saya sedang tidur siang. Mungkin karena melihat saya sedang istirahat, Reksa tidak mau mengganggu. Akhirnya, mereka memutuskan berangkat berdua pakai sepeda. Saya baru tahu saat menjemputnya. Tetangga agak kaget, dipikirnya saya yang mengantar anak-anak. Hehe.. Saya bilang yang sesungguhnya. Bersyukur, tetangga bisa mengerti.

Reksa bersama temannya menari "Tari Gembira" (16/8/2017)

Akhirnya, pulangnya Reksa mengendarai sepeda. Saya menemaninya sambil mengendarai motor. Saat jalan menanjak, Reksa turun dan menuntunnya. Saya tahu Reksa lelah, tapi saya menguatkan hati untuk tidak menolongnya. Saya ingin Reksa bertanggung jawab dengan tindakannya. Jika berangkat naik sepeda, ya pulangnya dia juga harus mengendarai sepeda sendiri. Betapapun lelahnya.
Reksa sempat meminta saya agar menelepon ayah. Saya bilang bahwa Bunda tidak membawa Hape. Bisa saja saya pulang lebih dulu dan memanggil ayah. Namun, saya urungkan niat saya. Biarlah dia bertanggung jawab dengan pilihannya. Bersyukur, Reksa tidak mengeluh. Dia tetap menuntunnya hingga mendekati tanjakan tercuram di Dusun kami. Saat itu, saya mengambil alih karena Reksa tidak kuat mendorong sampai atas.
Saat di atas tanjakan tersebut, tetangga melihat Reksa menuntun sepedanya sendiri. Tetangga bilang bahwa kasihan anak-anak (reksa dan anak tetangga) naik sepeda sendiri. Saya hanya tersenyum dan bilang, tidak apa-apa. Biar anak belajar. Saya tetap membiarkan Reksa sendiri yang menuntunnya. Mungkin karena tak tega atau alasan apa, tetangga menyuruh anaknya membantu Reksa menuntun sepeda hingga sampai rumah.
Saya bersyukur, tetangga menyuruh anaknya ikut bertanggung jawab. Saya bersyukur anak tetangga juga mau ikut bertanggung jawab. Tak lupa saya berterimakasih kepada keduanya karena telah menguatkan Reksa bertanggung jawab terhadaop tindakannya. 

 
Bagaimana dengan pelaksanaan tarinya? Reksa bersama temannya tampil pertama sebelum acara dimulai yakni pukul 19.00 WIB. Tari yang ditampilkan adalah tari gembira. Reksa cukup bisa mengikuti gerakan tari. Beruntung ada dua anak yang usianya lebih besar memandu Reksa dan teman-temannya yang masih kecil. Jadi, mereka tidak bingung saat lupa dengan gerakannya.
Kesalahan-kesalahan kecil dalam penampilan Reksa dan kawan-kawannya membuat saya tersenyum. Karena kesalahan tersebutlah yang membuat anak-anak terlihat sebagai anak-anak. Kesalahan kecil itu jugalah yang membuat penonton tersenyum bahagia. Apa lagi yang diinginkan penonton selain bahagia melihat kepolosan anak-anak dalam menampilkan kemampuannya.
Pada acara tersebut, Reksa juga sempat mengajukan diri mengisi kekosongan waktu jelang acara inti. Reksa memilih untuk bernyanyi “Guruku Tersayang” setelah ketiga temannya tampil di panggung. Meski sempat grogi di awalnya, Reksa bisa bernyanyi hingga selesai.
Apresiasi : Saya sangat mengapresiasi Reksa karena kegiatan ini adalah inisiatif Reksa. Reksa yang menginginkan. Dia juga bertanggung jawab mengikuti latihan. Tetap mengaji dan menjalankan tanggung jawab hariannya meski lelah latihan. Dia juga berani tampil spontanitas menyanyi di acara malam tirakatan.
Reksa belajar bersosialisasi dengan teman saat berada di tempat latihan. Reksa juga belajar motorik halus dan kasar saat latihan menari. Reksa belajar mandiri berangkat dan menyiapkan bekalnya sendiri. Reksa belajar bertanggung jawab dengan pilihannya. Demikian juga dengan saya sebagai orang tua. Banyak hal yang saya pelajari dalam satu kegiatan ini.

#Day5
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGENAL ANAK INDIGO MELALUI NOVEL

  Judul Buku : Misteri Anak Jagung Penulis : Wylvera Windayana Penerbit : PT. Penerbitan Pelangi Indonesia Cetakan : I, Januari 2013 Tebal Buku : 200 halaman Harga : Rp. 48.000,- Anda penasaran mengetahui siapa anak indigo itu, namun malas membaca buku The Indigo Children karya Lee Carroll dan Jan Tober? Saran saya, bacalah Misteri Anak Jagung. Novel remaja pertama yang ditulis oleh Wylvera Windayana ini mengisahkan tentang petualangan anak indigo dalam bingkai cerita misteri. Gantari – tokoh utama novel ini – sering dihantui oleh sosok Anak Jagung. Sosok itu seringkali muncul dalam mimpi-mimpinya. Sosok yang membuat Gantari penasaran sekaligus ketakutan. Selain muncul melalui mimpi, suara tangisan sosok misterius dari arah ladang jagung juga kerap mengusik telinganya. Apakah Legenda Anak Jagung yang diceritakan nenek Gantari itu benar-benar ada? Bersama Delia, Gantari berusaha mengungkap semuanya. Usaha mereka semakin terbuka ...

Membuat Hasta Karya Bentuk Hati

Kehadiran teman, sering memicu kreativitas anak-anak. Seperti sore beberapa hari yang lalu. Mbak Septi, tetangga kami main ke rumah. Sudah pasti anak-anak sangat senang. Berbagai permainan mereka mainkan. Mulai dari permainan fisik seperti naik sepeda hingga permainan imajinatif seperti bermain peran. Setelah lelah bermain, sore itu anak-anak mengambil kertas warna. "Bikin love, Yuk!" ajak Mbak Septi. Maksudnya bikin bentuk hati dari kertas warna. "Ayuk," Reksa mengambil kertas dan spidol. Keduanya lantas menggambar bentuk hati di atas kertas warna. Setelah selesai menggambar, keduanya pun mengguntingnya. Tertarik dengan aktivitas keduanya, saya pun ikut membuat bentuk hati. Saya menggunakan teknik yang berbeda dengan anak-anak. Setelah selesai menggunting, saya perlihatkan karya saya pada anak-anak. "Nih, buatan Bunda. Kanan kirinya sama kan?" Reksa dan temannya mengamati hasil karya saya. "Iyae, Bun." "Biar sama, cara bikinnya d...

MELUNCUR DI ATAS JAHE

“Teeet! Teeet! Teeet!” Suara bel berbunyi tiga kali. Tanda ujian berakhir. “ Alhamdulillah...”, ucapku pelan. Lega rasanya ujian semester ini telah berakhir. Bergegas aku mengumpulkan lembar jawaban ke depan. Ternyata aku yang paling akhir. Setelah mengambil tas, aku duduk di samping kursi Maikah. “Mai, aku dengar kabar dari kelas 6, liburan ini kita akan diajak outbond ke Gua Pindul lho..” bisikku pada Maikah. Sudah menjadi kesepakatanku dengan Maikah, pada masa-masa ujian seperti sekarang ini, pantang bagi kami berdua membahas soal ujian sekolah. Maikah menoleh. “Oya? Asyik dong! Jadi pengen beli gatot sama tiwul.” “Ah, kau! Makanan aja yang diingat,” kucubit perut Maikah yang semakin buncit. Maikah memasukkan peralatan tulis ke dalam tas. “Memang sudah pasti ke Gua Pindul?” tanya Maikah ragu-ragu. Aku mengedikkan bahu. “Yah, semoga aja” Topik tentang liburan semester memang selalu hangat dalam perbincangan kami. Sudah seminggu kami sekelas membincangkan topi...