Langsung ke konten utama

Postingan

DAY 2 : Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Tantangan hari kedua komunikasi produktif masih konsisten dalam upaya melatih kemandirian Saka. Seperti pagi sebelumnya, Saka sudah mulai bisa makan sendiri. Tentu saja saya masih membantu membuat gunung-gunung nasi kecil dan teriak “DUER” saat Saka memasukkan nasinya ke mulut. Hehe..Saya memang sengaja tidak terburu-buru memaksa Saka langsung mandiri agar dalam proses pelatihannya menyenangkan. Pada hari kedua ini, Saka juga sudah terbiasa melepas dan memakai celana sendiri saat pipis di kamar mandi. Kuncinya terletak pada saya sendiri untuk tetap stay cool saat anak kesulitan melepas dan memakainya kembali. Saya cukup sebagai pemandu sorak saja. Biarkan anak menghadapi kesulitannya sendiri. Melatih Saka Tanggung Jawab Saat saya menjemur pakaian, Saka bermain perang-perangan dengan Reksa. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba Saka memuntahkan air minum yang ada di mulutnya. Maksudnya ingin mengenai kakaknya tapi tidak kena karena kakaknya cepat menghindar. Kejad...

Day 1 : Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Setelah mendapatkan materi komunikasi poduktif di kelas Bunda Sayang IIP, kami mendapat tantangan selama 10 hari untuk mempraktekkannya. Tulisan di bawah ini adalah catatan dari praktek tersebut sebagai bahan dokumentasi dan evaluasi keluarga kami. Pelaksanaan tantangan dimulai tanggal 31 Mei 2017 Ajang Melatih Kemandirian Saka Meski sudah berumur 2,5 tahun, Saka belum bisa mandiri dalam memakai baju dan makan. Tentu saja permasalahannya ada pada saya yang kurang tegas dalam mendiplinkan anak. Saat anak merengek minta disuapi, terkadang saya luluh. Saat anak menangis karena tidak mau mengenakan celana sendiri, saya gregeten dan ambil mudahnya saja. Saya kenakan celananya, “sreeet..” dan selesai. Hehehe.. Nah, tantangan 10 hari ini saya gunakan sebagai ajang melatih kemandirian Saka. Dimulai pagi hari saat Saka minta dibuatkan susu coklat milik ayah. Sesuai kesepakatan lama, anak-anak boleh minum susu segelas sehari. Tidak boleh lebih karena kalau lebih bi...

Manfaat Bermain Boneka

Sejak dua bulan yang lalu, Reksa (5 tahun) suka bermain boneka. Boneka yang paling disukainya adalah boneka perempuan yang ia beri nama Aisya. Boneka tersebut sudah dianggap seperti adeknya sendiri. Saat waktunya Reksa mandi, Aisya dimandikan juga. Saat waktunya Reksa ke PAUD atau saat keluar diajak ayah, Aisya tak lupa dibawanya. Reksa juga memperhatikan makan dan minum Aisya. Bahkan, saat mau tidur, Aisya juga dia neneni dan kemudian ditidurkannya di dekat tempat tidurnya.  Saka ikut bermain boneka bersama Reksa Biasanya Reksa leluasa bermain dengan bonekanya saat Saka tidur siang karena ia bebas meletakkan berbagai peralatan dan kebutuhan Aisya tanpa mendapat gangguan.  Melihat ketertarikan Reksa pada boneka yang cukup besar, saya membelikan boneka yang lebih besar. Boneka Aisya kemudian diberikan Reksa pada Saka. Saya berharap Saka juga bisa belajar merawat boneka. Reksa berinisatif membuatkan tempat tidur Aisya Apa saj...

Belajar Tepat Waktu

Sejak mengenal homeschooling, saya agak kurang semangat memasukkan anak ke sekolah formal. Oleh karenanya, saat anak-anak yang lain sudah mulai masuk PAUD, Reksa masih bermain di rumah. Namun, saat usianya empat tahun, Reksa minta sekolah. Waktu itu saya sudah pindah rumah di Kalisoka. Dengan pertimbangan agar Reksa punya teman bermain, saya pun mengabulkan keinginannya sekolah PAUD. Waktu belajar PAUD Kalisoka hanya tiga kali seminggu yakni hari Senin, Rabu dan Jumat. Dimulai pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 10.00 WIB. Awalnya saya selalu tepat waktu mengantar Reksa sampai di sekolah. Namun, dalam perjalanannya, saya sering terlambat sampai di sekolah. Selain karena kerepotan saya di pagi hari seperti beberes rumah dan mencuci baju, saya agak santai mengantar reksa karena seringnya pembelajaran resmi baru dimulai pukul 08.30 WIB. Waktu itu saya berpikir, “Mengapa mesti berangkat tepat waktu kalau toh akhirnya dimulainya mundur setengah jam?!”. *nyengir kuda ...

Bunda, Pekerjaanmu Masih Bisa Menunggu

Pagi itu saya hendak mencuci pakaian. Dua gunung baju kotor “ngawe-awe” minta dicuci. Segunung baju bisa langsung dimasukkan mesin cuci. Segunung lagi, baju dan celana anak-anak yang harus dibilas terlebih dahulu. Sengaja dua gunung itu saya pisah sejak awal agar memudahkan saat mencucinya. Kulihat Reksa asyik menata mainan seperti pedagang sedang menggelar lapaknya. Sedangkan Saka puter-puter ruangan dengan kelincinya. “Pertanda yang baik” batinku dalam hati. Anak-anak anteng bermain, sementara ibu bisa tenang bekerja. Impian hampir sebagian besar ibu rumah tangga sepertiku. Namun, kenyataan seringkali berlainan. Saat hendak menuju ke kamar mandi, Reksa memanggil. “Bun, iki dua ratus to?” tanya Reksa sambil memperlihatkan uang kertasnya. “Angka nol-nya ada berapa?” Saya balik bertanya. “Tiga” “Berarti kui dua ribu. Nek dua ratus ki angka nolnya dua.” jelasku. “Oh..” Reksa manggut-manggut dan kembali berkutat dengan uang kertasnya. Saya pun kemba...

Membuat "Moving Owl"

Kalau mewarnai gambar saja, Reksa sudah bosan. Begitupun kalau hanya menggunting dan menggabungkan guntingannya mejadi bentuk aneka hewan atau alat transportasi saja. Reksa butuh sesuatu yang lebih menarik dikerjakan meski ketrampilan dasarnya seperti mewarnaai dan menggunting tetap digunakan. Setelah melihat-lihat berbagai prakarya di krokotak, mata saya tertumbuk pada ide membuat "moving owl". Malam itu juga saya menggambar owl di kertas putih. Baru Selasa paginya, saya  bilang ke Reksa bahwa kita akan membuat owl. "Owl itu apa, Bunda?" Reksa langsung bertanya. "Burung hantu." "Oh, burung hantu. Burung hantu ki binatang malam yo, Bunda?" tanyanya lagi. Owl bikinan Reksa tampak depan Pertanyaan seputar burung hantu pun meluncur deras dari mulut Reksa. Memang benar ilmu yang pernah saya dapatkan dulu. Saya lupa darimana. Intinya, rasa ingin tahu adalah modal awal bagi anak untuk semangat dalam mempelajari sesuatu. Tugas orang...

Membuat "Moving Fish"

Sesuai janji saya di posting sebelumnya , saya akan menceritakan pengalaman saya dalam menemani anak-anak membuat prakarya di rumah. Berhubung prakarya yang sudah dibuat cukup banyak, saya akan memulainya dengan menceritakan proses membuat prakarya berupa "moving fish" pada hari Sabtu (16/7/2016). Ide membuat "moving fish" ini saya dapat dari share Mbak Arleen di beranda facebook. "Moving fish" adalah salah satu dari ribuan ide prakarya yang ada di website krokotak . Sepintas melihat video cara pembuatannya membuat saya tertarik untuk segera mengekseskusinya. Alasannya, karena cara pembuatan "moving fish" yang sederhana, bahannya mudah didapat yakni kertas warna, dan hasilnya sangat menarik bagi anak-anak. Jadilah, Sabtu pagi seusai beberes rumah, saya mengajak Reksa mengeksekusi ide tersebut. Petunjuk yang ada di website krokotak sangat mudah. Selain ada panduan foto, juga terdapat video yang bisa ditonton bersama. Saya memilih menunjukkan ...